Feeds:
Pos
Komentar

Ya itu aku

Kau lihat disana?

Ya itu aku, telah kalah

Tertunduk layu, terluka, tertatih meninggalkan arena

Satu rusuk telah hilang dan hati yang lebam

 

Dan gerangan siapa disana, Kau kah itu?

Berdiri kaku memandangku, sebilah tulang gading dalam genggamanmu

Tak pernah berniat kau merenggutnya dariku

Kau hanya berusaha tetap merengkuhku, itu yang ku tahu.

 

 [berselimut kenangan di selat berhala, 27.08.09]

Iklan

Debar itu

Debar itu

menggelnyar karenamu

Dapatkah kau rasakan itu

Atau mungkinkah seperti tala,

Turut menggetar karena kita dalam resonansi yang sama

 

Atau kita hanya dua buah getaran halus

Bervibrasi dalam sunyi

Tersesat dalam jagad quanta

Kala segala hanya berupa getar saja

27062012

Bukan pada Khrisna yang biru itu aku menitis
Aku mewujud dalam api, panas dan menyala
Lalu dalam cahaya monokromatis meyilaukan atau warna redup menentramkan
Menjelma dalam suara memekak dan desahan
Dalam sebuah gerakan, otot yang berkontraksi, napas memburu dan erangan

Dalam semangat, harapan dan lirih sebuah do’a
Bertransformasi
Dalam setiap jagad raya
Pembentuk dari segalanya
Aku getar abadi
Aku ada, kekal dan begitu nyata.
27/06/2012 10:11:07

Kutelan sumpahku

Ku telan sumpahku untuk tak menulis lagi senja dalam baitku

Tapi riak berayun menari bersamamu

Dalam semburat surut mentari

Dan sebentuk sabit awan tipis

 

Redup langit senja pergi

Tapi riak itu masih menari

Dan terus menari…menari.            8210578

Sembilan lingkaran Dante

Sembilan lingkaran Dante telah mengelilingiku.    

Dan ucapanmu telah menggenapkannya, kini aku terbakar.      

Kelak  hanya abu dari jenazahku yang tersisa tanpa ada yang mengenalinya.      

Dan hilang tersaput angin tanpa ada yang mencarinya.

Karena jasadku selalu sendiri, tak pernah ada yang menemaninya.                                        

 

Demi pemilik semesta

Demi pemilik semesta, Raja manusia,

Disini aku

Dalam genggamanMu

Hahahaha

 

Hahahaha…., jadi kamu bertanya bagaimana aku mengenalmu?

Ada tiga tanda tanya diselingi tanda seru diantaranya, mencoba menegaskan pertanyaanmu. Huruf  demi huruf muncul berkejaran dalam layar yang berpijar tanpa sedikitpun menunggu untuk memberi celah kesempatan untukku menjawab. Sejak awal pertanyaan sepertinya  kamu memang tidak pernah menginginkan sebuah jawaban.

 

Kedipan layar menerbangkan jiwaku kedalam lipatan masa.

Bukan saat menjadi kura-kura raksasa, Waraha, atau babi hutan yang menyelamatkan pertiwi atau pula Narasimha yang perkasa, tetapi sebagai putra Dasarata.  Dalam sebuah sayembara di Mithila, Disana pertamakali aku bertemu denganmu

 

Tapi aku menghilang dalam perburuan kijangku, lalu kaupun meninggalkan lingkaran rapuh itu dan pergi bersama Rahwana.

Shankhya, Cakram, Gada dan Padma terserak saat keempat tanganku mencoba meraihmu

Takan pernah kusebut lagi nama Laksmi, biar kujalani peranku di sisimu, tapi aku minta lupakan Rahwana.

Jadi Shinta, Mohon berhentilah untuk menoleh kebelakang, tidak ada seorangpun disana sekarang,

tidak ada siapapun yang kau tinggalkan selain masa lalu yang mengikatmu, atau dirimu yang mengikatkan diri padanya.

 

Tanpa perlu lagi mematahkan busur siwa, atau membangun situbanda akan kubuktikan kesungguhanku….

 

“Jadi kapan?!?!” layer berkedip menarik jiwaku kembali kedepan monitor

“Saat mengantar surat dikampus, jaman kuliah dulu,” aku mengetiknya singkat…

semarang, 10092010

Redalah

Duhai sahabat, redalah

Amarahmu telah membakar segalanya

Aku renta dan pertikaian ini terlalu melelahkan bagiku

 

ucapanku silu di telingamu

dan lisanku pernah menikammu

sungguh sesal ini menghisap hidupku

 

terengah aku berlari menghantar

tak mampu lagi ku untai,

tapi kata maaf itu menghambur ke arahmu

 

 

Jadi Mari, kubantu basuh lukamu

biarkan aku menyesap nyeri di tubuhmu,

redupkan nyala di hatimu

 

 

Karena Kita  pernah terpilin oleh asa yang sama

Karena kau pernah memapahku

Karena persahabatan ini menjadi bara yg harus kugengam,

Dan Aku tak rela melepasnya tak jua sanggup menahannya

 

Redalah, tangguh 18102009